Kamis, 20 Oktober 2022

Menulis Itu Mudah


 

Menulis Itu Mudah

 

Pertemuan                   : 26

Moderator                   : Ibu Yandri Novita Sari

Nara Sumber               : Prof. Dr. Ngainun Naim

Tema                            : Menulis Itu Mudah

  

Assalamu’alaikum Teman-teman

Kelas Belajar Menulis PGRI Gelombang 27 kali ini sudah mencapai pertemuan ke 26. Kelas kali ini yang bertugas sebagai moderator adalah Ibu Yandri Novita Sari yang berasal dari Minagkabau Sumatra barat.

Narasumber pada kesempatan kali ini adalah Bpk. Prof. Dr. Ngainun Naim, S, Ag.,  M.H.I. Kelahiran Tulungagung, 19 Juli 1975. Beliau adalah seorang Guru Besar (Gubes) Bidang Ilmu Metodologi Studi Islam UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung. Waktu penobatan menjadi Gubes UIN Tulungagung dihadiri langsung oleh Wakil Bupati Trenggelek Bapak Syah Natanegara. Karya beliau sangat banyak, seperti menulis artikel, jurnal baik itu lingkup nasional dan internasional, buku solo dan antologi. Beliau adalah penggiat literasi. Sepak terjang Beliau dalam berkarya sudah tidak diragukan lagi.

Materi yang disampaikan oleh nara sumber pada kali ini adalah tentang Menulis Itu Mudah.

Teman-teman,

Dalam menulis, mungkin pernah merasakan kosong pikiran atau bingung mau menulis apa. Mungkin juga kita merasa kalau menulis itu seperti hantu yang menakutkan. Merasa menulis itu sangat-sangat susah. Karena kosong dan bingung bisa menjadi malas menulis, Mungkin juga dalam benak kita terbesit fikiran “Ah … nanti saja deh kalau sudah ada mood baik atau  menunggu inspirasi datang”. “Nanti deh pas lagi ada waktu senggang”. “Duhh.. Mau menulis apa yah, kok otak mumet belum ada ide”.  Beribu alasan yang ada dibenak, ujung ujungnya hanya kertas kosong dan layar computer pun kosong juga.

Bagi penulis pemula tentu saja sangat sulit mau menulis apa, topik tentang apa, ide yang bagaimana pasti selalu menghantui para penulis pemula, sedikit-sedikit dicoret, merasa tidak percaya diri, terkadang kita terlalu mengkritik tulisan kita sendiri dan ingin menampilkan hasil yang sempurna. Itu merupakan hal yang sering dan biasa hinggap dalam diri penulis. Hal ini juga sering saya alami saat membuat tulisan. Terasa jadi hambatan dalam kondisi tidak bisa berpikir apa yang harus ditulis atau bagaimana memproses tulisan.

Nara sumber memberikan penjelasan menulis itu Relatif dan Bersyarat. Relatif itu artinya tidak selalu mudah. Bersyarat artinya jika syarat tidak dipenuhi ya tidak mudah juga.

 

Relatif

Tulisan itu ada banyak jenisnya. Orang yang terbiasa menulis, bahkan menulis di blog setiap hari, akan sulit saat harus menulis karya ilmiah. Seperti membuat tesis, disertasi, atau jurnal ilmiah. Sebaliknya, orang yang terbiasa menulis ilmiah, sulit juga ketika menulis populer seperti kita membuat catatan resume. Orang yang terbiasa menulis ilmiah, akan sulit juga jika disuruh menulis fiksi. Dan seterusnya. Maka menulis akan mudah jika kita menulis sesuatu yang sesuai dengan kebiasaan dan kemampuan kita. Jika belum terbiasa, maka bisa dimulai dari menulis hal-hal yang diketahui dan dialami sehari-hari. Ini bisa jadi mudah.

 

Bersyarat

Nara sumber kembali menjelaskan tentang syarat menulis itu mudah, diantara syaratnya yaitu :

Motivasi

Jika ingin menulis, abaikan semua jenis ketakutan. Takut jelek, takut kurang bagus, takut dibaca ahlinya. Abaikan saja, bebaskan ketakutan itu. Tugas penulis itu ya hanya menulis. Pokoknya terus  menulis. Setelah selesai, tugas selanjutnya adalah menulis tulisan baru. Kita sudah bisa membaca, menulis, pernah sekolah. Itu lebih dari cukup untuk bisa menulis. Musuh terbesar itu adalah diri sendiri. Bangun motivasi diri untuk bersemangat menulis.

 

Yakinkan bahwa menulis itu anugerah

Mengapa disebut anugerah?, karena hanya orang tertentu yang mau dan mampu menulis. Ada yang mau tetapi tidak mampu. Ada juga yang mampu tetapi tidak mau. Jadi kita harus mensyukuri anugerah ini dan tetaplah menulis.

 

Menulis memberikan banyak keajaiban hidup

Sebagai contoh pencapaian karir yang dialami narasumber adalah selain anugerah dari Allah, ini juga berkat menulis. Saat mengenyam pendidikan Sarjana hampir di keluarkan karena tidak ada biaya. Harus menjual susu keliling demi membiayai dan menyelesaikan kuliahnya. Dan hingga mendapatkan gelar Guru Besar itu merupakan keajaiban berkat menulis.

 

Jangan mudah menyerah

Ini berlaku disemua kehidupan, bukan hanya dalam hal menulis. Berjuang dengan penuh totalitas, itu menjadi kunci penting agar tidak mudah menyerah. Menulis juga perlu perjuangan agar tidak mudah menyerah ketika tulisan kita belum selesai. Terus bersemangat hingga selesai.

 

Berjejaring sosial

Saat ini kita hidup di zaman jejaring. Maka kita bisa manfaatkan hal itu diantaranya membuat Blog. Dengan rajin menulis di Blog, maka akan menjadikan menulis itu mudah, karena kita terbiasa menulis untuk membuat tulisan. Kalau bisa minimal satu haru satu tulisan.

 

Menulislah sebanyak-banyaknya

Menulis bagi orang yang belum terbiasa menulis itu jangan berfikir soal kualitas tulisannya,  tetapi yang paling penting adalah menulis sebanyak-banyaknya, nanti kualitas itu akan mengiringi terhadap hasil karya tulisan yang kita hasilkan. Jika kita banyak menghasilkan karya, maka itu akan menjadikan kita terampil. Terampil menulis itu adalah ketika tidak lagi berfikir untuk menulis apa yang kita akan tulis, tetapi menulis apa yang ada didalam fikiran kita. Jika kita sudah sampai pada taraf itu maka menjadikan menulis itu mudah.

 

Kunci menulis itu adalah 6M, Membaca, Menulis, Membaca, Menulis, Membaca, dan Menulis (Prof. Kuntowijoyo)

 

"Saya hidup untuk buku, aku adalah buku". (J.K Rowling)

 

Semoga bermanfaat

 

Salam hangat penuh semangat


Menulis Buku Biografi


 Menulis Buku Biografi

Pertemuan                   : 25

Moderator                   : Bpk. Bambang Purwanto, S. Kom., Gr.

Nara Sumber               : Ibu Lely Suryani, S. Pd. SD

Tema                            : Menulis Buku Biografi

 

Assalamu’alaikum Teman-teman

Kelas Belajar Menulis PGRI Gelombang 27 kali ini sudah mencapai pertemuan ke 25. Kelas kali ini yang bertugas sebagai moderator adalah Bpk. Bambang Purwanto, S. Kom., Gr., yang biasa di panggil Mr. Bams. Beliau adalah seorang Guru Informatika di SMP Taruna Bakti.

Narasumber pada kesempatan kali ini adalah Lely Suryani, S.Pd. SD yang Lahir di Desa Berta, Kecamatan Susukan, Kabupaten Banjarnegara pada tanggal 25 Juli 1972. Menempuh masa Pendidikan  Dasar di SD N II Berta, lulus pada tahun 1985  kemudian melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 1 Purwareja Klampok selama 2 tahun,  dan pindah ke SMP Negeri 3 Banjarnegara selama 1 tahun sampai lulus pada tahun  1988.  Pendidkan SMA di  tempuh melalui Pendidikan Kejar Paket C, lulus pada tahun 2004. Setelah itu,  melanjutkan Pendidikan D II PGSD di Universitas Terbuka, lulus pada tahun 2008, kemudian mengikuti Pendidikan S1 PGSD di Universitas Terbuka, lulus pada tahun 2012.

Materi yang disampaikan oleh nara sumber pada kali ini adalah tentang Menulis Menulis Buku Biografi.

Teman-teman,

Pernahkah membaca kisah tentang orang-orang terkenal, orang-orang yang hebat, yang dapat memberikan kita inspirasi, memberikan kita motivasi, serta memberikan kita gambaran tentang apa yang akan kita lakukan selanjutnya. Kisah tersebut tertuang dalam bentuk buku. Buku yang berisikan tentang suatu proses atau pengalaman orang-orang terkenal dan hebat. Mereka membagikan kisahnya maupun pengalamannya, bahkan membagikan kiat-kiat atau tips bagaimana cara melakukannya agar seperti mereka. Ya, buku itu merupakan buku biografi dari orang-orang hebat dan terkenal tersebut.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), biografi adalah riwayat hidup (seseorang) yang ditulis oleh orang lain. Sementara menurut Wikipedia, biografi adalah karya sastra yang berisikan riwayat hidup seorang tokoh ternama. Biografi berasal dari bahasa Yunani yakni dari kata bios dan grafien. Kata bios berarti hidup dan grafien berarti menulis, sehingga biografi memuat riwayat hidup yang berisi prestasi istimewa seseorang.

Sehubungan dengan materi yang akan disampaikan pada kali ini, nara sumber menjelaskan tentang buku biografi yang baru saja diselesaikannya yang akan segera diterbitkan yang berjudul “50 Tahun Lebih Dekat Dengan Om Jay”. Dari sini jadi sudah diketahui bahwa Biografi itu adalah riwayat hidup seseorang yang ditulis oleh orang lain. Berbeda dengan Autobiografi yang merupakan riwayat seseorang yang ditulis oleh dirinya sendiri. Berikut buku yang ditulis oleh narasumber yang segera terbit.


Narasumber menjelaskan bagaimana cara menulis biografi yang baik, karena yang ditulis adalah bukan tentang diri sendiri melainkan tentang orang lain. Karena ada ranah-ranah dan privasi yang tidak perlu ditulis. Yaitu :

1.      Meminta ijin kepada yang bersangkutan atau kepada tokoh yang akan dijadikan tulisan

2.      Menentukan bahan tulisan seperti riwayat hidup dari kecil hingga saat ini

3.      Tulisan dibuat secara runtut agar cerita nya mengalir sesuai riwayat

4.      Tidak membuat tulisan yang sifatnya privasi dari tokoh tersebut

5.      Membuat tulisan tentang kebaikan-kebaikannya, motivasi-motivasi dirinya

 

Teman-teman

Berikut adalah bagaimana cara Menulis Biografi, yang mungkin bisa menjadi masukan buat teman-teman untuk mencoba membuat, diantaranya yaitu : (Dikutip dari halaman web Penerbit Deepublish)

1.      Menentukan Tokoh

Hal pertama yang harus dipikirkan adalah menentukan tokoh yang ditulis. Hal paling dasar adalah harus mencari tahu apakah tokoh tersebut masih hidup atau sudah wafat. Pertimbangan tersebut akan berpengaruh pada tulisan kita.

2.      Menentukan Bahan

Setelah menentukan tokoh yang akan ditulis, langkah selanjutnya adalah melakukan riset untuk menentukan bahan-bahan yang mendukung informasi tulisan. Pada tahap ini, kita dapat berfokus untuk menentukan bahan sebanyak-banyaknya.

3.      Temukan Fakta-fakta Utama

Setelah menemukan semua bahan tulisan, kita bisa menemukan dan memilah fakta-fakta unik, menarik, dan utama dari tokoh. Fakta-fakta tersebut menjadi penting untuk diungkap karena bisa berdampak pada penulisan biografi.

4.      Tentukan Bagian Penting

Dalam penulisan biografi, aspek penting lainnya adalah menentukan bagian penting dari kehidupan tokoh yang kita pilih. Maka dari itu, dalam menulis biografi kita harus menceritakan kisah hidup tokoh secara kronologis.

5.      Menentukan Daya Tarik Tokoh yang Kita Angkat

6.      Terlepas dari terkenal atau tidaknya tokoh yang dipilih, kita juga harus tetap memiliki argumen kuat mengapa tokoh yang dipilih perlu ditulis biografinya.

 

 “Menulislah dengan hati dan apa adanya, Biarlah waktu yang akan berbicara”. (Lely Suryani)

 

Semoga bermanfaat 

Salam hangat penuh semangat


Rabu, 19 Oktober 2022

Menulis Di Kala Sakit


 

Menulis Di Kala Sakit

Pertemuan                : 24

Moderator                  : Ibu Raliyanti

Nara Sumber             : Bpk. Suharto, M. Pd

Tema                         : Menulis Di Kala Sakit

 

Assalamu’alaikum Teman-teman

Kelas Belajar Menulis PGRI Gelombang 27 kali ini sudah mencapai pertemuan ke 24. Kelas kali ini yang bertugas sebagai moderator adalah Ibu Raliyanti, yang berasal dari Jakarta. Beliau adalah peserta/alumni kelas BM PGRI Gelombang 20 dibawah bimbingan Om Jay. Beliau sudah membuat buku solo dan antologi. Beliau juga sudah menjadi salah satu anggota Tim Om Jay yang sering menjadi Moderator juga pembuat flyer disetiap kegiatan.  

Narasumber pada kesempatan kali ini adalah Bpk. Suharto, M. Pd. Beliau adalah Seorang Guru Di Madrasah Tsanawiyah Negeri 5 Jakarta yang mengajar Mata Pelajaran Fiqih. Beliau juga seorang Bloger, Motivator, Inspirator, Literat, dan Desainer Cover Buku. Beliau sudah banyak menerbitkan buku baik buku antologi maupun buku solo. 

Materi yang disampaikan oleh nara sumber pada kali ini adalah tentang Menulis Di Kala Sakit.


Teman-teman, 

Pastinya setiap kita berdo’a kita selalu ingin diberikan kesehatan, diberikan kemudahan dalam menjalankan aktifitas kita sehari-hari. Namun fisik yang kita rasakan ini tidak seterusnya sehat, dan terkadang kita pasti mengalami yang namanya sakit. Memang tidak nyaman rasanya jika fisik kita mengalami sakit, karena aktifitas kita menjadi terganggu. Mau istirahat total tak bisa, terkadang masih memikirkan hal-hal yang biasa kita lakukan setiap hari. 

Namun, itu semuanya tak pernah menjadi penghalang bagi Bpk. Suharto, M. Pd. Beliau merupakan nara sumber pada kelas kali ini yang akan membagi kisah dan pengalamannya dalam melakukan aktifitasnya ketika Beliau sakit. Bahkan bukan hanya menjalankan aktifitas rutin saja, malahan Beliau lebih aktif lagi dikala sakit sehingga banyak karya-karya Beliau yang sudah di bukukan dalam bentuk karya buku.

Narsumber menceritakan kilas balik ke belakang saat awal mula Beliau belum menjadi penulis. Kata nya Beliau termasuk orang yang tidak bisa menulis, sehingga menjadi guru sudah puluhan tahun tidak ada karya tulis yang dihasilkan.  Awal menulis berawal karena butuh sebuah karya tulis, baik yang bersifat ilmiah maupun non ilmiah. Kebetulan saya seorang ASN. Dahulu kenaikan pangkat sangat mudah. Namun, ketika saya berada pada golongan III.d. dan ingin naik golongan ke IV.a. persyaratan wajib harus mempunyai karya tulis ilmiah dan buku penunjang lainnya.

Hingga kemudian Akhirnya Beliau mencari pelatihan menulis lewat medsos (Facebook). Ketika men-scroll FB ada pelatihan di Wisma UNJ yang diselenggarakan oleh komunitas sejuta guru ngeblog (KSGN), maka bertemulah dengan orang -orang hebat. Siapa mereka? Sudah tidak asing lagi bagi kita, yaitu: Bang Namin, Om Jay, Om Dedi, dan yang lainnya.

Hampir tiga kali pelatihan Beliau ikuti kegiatan KSGN. Dan dari sinilah, Beliau mendapat kunci bagaimana caranya menulis. Pada pelatihan pertama Beliau dapat ilmu tentang menulis PTK. Pada pelatihan ke-2 sekitar tgl 27-29 Desember 2016 di Wisma UNJ. Dari sini Beliau sudah dapat menulis buku Antologi perdana dengan judul Bukan Guru Biasa.


Kemudian keikutsertaan Beliau pada pelatihan ke-3 tentang public speaking, kebetulan salah satu materinya tentang menulis dan narasumbernya adalah Om Jay. Dari Om Jay Beliau menemukan kunci bagaimana menulis. Itupun disebabkan karena bertanya kepada Om Jay. beliau bertanya tentang bagaimana cara memulai untuk menulis? Apa yang harus ditulis? Dan bagaimana cara mengakhiri sebuah tulisan?. Om Jay menjawab Tulis apa yang ada disekitar kita, tulis apa yang kita bisa, tulis materi yang kita kuasai, tulis apa yang kita alami, ide menulis banyak berserakan di sekitar kita, tulis dengan bahasa yang sederhana yang penting pesannya tersampaikan, dan lainnya.

Setelah mengikuti beberapa kali pelatihan, Beliau menulis apa yang bisa ditulis dan di alami sehingga menjadi sebuah tulisan. Hampir setiap hari menulis satu artikel.  Sambil menulis beliau tidak berhenti untuk mencari Pelatihan menulis lagi lewat medsos. Hingga hampir dua tahun berturut-turut Beliau berkelana mencari ilmu tentang menulis, serta meninggalkan anak dan istri dengan biaya lumayan untuk mengikuti pelatihan menulis di berbagai kota dan daerah. Dan pada suatu saat Beliau melihat ada pelatihan di daerah Cipanas Jawa barat yang diselenggarakan oleh komunitas menulis Media Guru. Beliau daftar dan pada tanggal 27-29 Desember 2017 mengikuti pelatihan menulis selama tiga hari dua malam. Dari pelatihan itu terbitlah buku solo perdana Beliau dengan judul "Mengejar Azan" buku perdana ini kemudian meminta temannya untuk melukisnya, lalu diberikan bingkai dan diletakkan di depan meja kerjanya.


Namun, untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Tiba-tiba badai tornado meluluh lantahkan kebahagiaan Belau. Dengan hitungan jam tubuh nya lunglai, semua syaraf mati, seluruh tubuh tidak dapat bergerak, lidah tertarik, urat wajah pun tertarik, suara hilang, dan nafaspun tidak bisa. Akhirnya nafas pun dibantu dengan oksigen dan ventilator. 1 bulan 13 hari dirawat di ruang ICU. Dengan hitungan hari tubuh yang besar lagi tingi tinggal tulang berbalut kulit. Banyak teman-temannya bilang kalau sepertinya Beliau tidak ada harapan. Di ruang ICU tidak ada perubahan, lalu dipindah ke ruang yang lebih intensif, ruang HCU. Ditemani oleh 2 suster dan 1 dokter yang jaga. Hampir 3 bulan dirawat di ruang HCU. Setelah lepas ventilator, Beliau sudah bisa pulang dalam kondisi masih memakai oksigen. Pulang dari rumah sakit masih dalam kondisi sakit. 

Hampir satu tahun seluruh tubuh tak bergerak, setelah itu mulai satu persatu bergerak. Hari-hari hanya terbaring di tempat tidur. Jenuh, bosan, hampir saja stress. Saat terbaring dirumah, kebetulan gawai sang istri diletakkan didadanya yang tertingga. Beliau mencoba menyentuhnya, ternyata bisa. Dan ketika sang istri pulang mengajar langsung  meminta gawai milik nya yang selama setahun lebih tidak pernah digunakan, dan sang Istri langsung membelikan kartu baru. Dari situlah Beliau mulai melacak Facebook, butuh waktu tiga hari baru terlacak password-nya. Dan setelah itu Beliau mulai menulis kembali. Beliau menulis dengan satu tema, yaitu tentang motivasi hidup. Hampir setiap hari selalu menulis. Malam mencari ide dan selesai subuh menulisnya.

Senin sampai jumat menulis motivasi. Sabtu dan Minggu menulis tentang apa yang sedang Beliau alami dan rasakan. Semua tulisan langsung dibagikan ke Facebook. Banyak yang mengapresiasi dan menunggu tulisan-tulisan berikutnya. Di antara orang-orang yang melihat tulisan Beliau di medsos, ternyata hadir pula Om Jay memberikan komentar dan mengajak Vidio call, dan mengajak untuk ikut pelatihan menulis di gelombang 8. Sampai pelatihan selesai, Beliau tidak lulus, karena tidak mengumpulkan resume. Tetapi semua materi yang dibuat disimpan di blog dan wordpress. Dengan mengikuti pelatihan menulis PGRI  bagi Beliau itu merupakan menambah nutrisi untuk membuat tulisan menjadi lebih hidup. Akhirnya lahirlah buku perdana ketika sakit, dengan judul GBS Menyerangku, dan secara bersamaan terbit buku kedua, judul Menuju Pribadi unggul; Seni Menata Diri. Buku ini di bawah bimbingan pak Akbar Zaenudin.




Baliau menceritakan kembali kemudian selanjutnya secara estafet terbit buku-buku yang lainnya. Seperti buku motivasi, memori, cerpen, novel Betawi, tentang menulis, dan lainnya. Hingga sampai saat ini sudah menerbitkan 12 buku solo yang berhasil diterbitkan. Dan buku yang ke 12, lahir dengan judul yaitu Menulis di Kala Sakit. Dan masih ada dua buku lagi yang belum diterbitkan Calon buku ke -13 dan 14, yaitu berjudul: Catatan Harian Sang Guru dan Catatan Harian Guru Blogger Madrasah.


Narasumber kembali menjelaskan tentang dirinya yang mendapat hikmah menulis dikala sakit, yaitu :

  1. Kedatangan para youtuber ( Chanel Akbar Zaenudin "Guru Inspiratif" dan Chanel Sutrisno Muslim "Kesempatan Kedua Mengubahku")
  2. Mendapatkan Penghargaan "Pahlawan Pendidikan" dari Bang Japar Jakarta.
  3. Menjadi Narasumber pelatihan menulis di  Komunitas belajar menulis di KSGN PGRI.
  4. Banyak punya teman hingga banyak yang bantu menerbitkan buku
  5. Banyak teman ditempat kerja yang terinspirasi membuat buku
  6. Belajar membuat desain cover buku sehingga bisa buat untuk sendiri maupun bantu teman



Semoga bermanfaat
Salam hangat penuh semangat

Rabu, 12 Oktober 2022

Menjadi Penulis Buku Mayor

 


Menjadi Penulis Buku Mayor

 

Pertemuan                : 22

Moderator                  : Bpk. Sim Chung Wei, S.P

Nara Sumber             : Bpk. Joko Irawan Mumpuni

Tema                          : Menjadi Penulis Buku Mayor

 

 

Assalamu’alaikum Teman-teman

Kelas Belajar Menulis PGRI Gelombang 27 kali ini sudah mencapai pertemuan ke 22. Kelas kali ini yang bertugas sebagai moderator adalah Bpk. Sim Chung Wei, S.P, yang biasa dipanggil Koko Sim. Beliau adalah peserta/alumni kelas BM PGRI Gelombang 26 dibawah asuhan Om Jay. Saat ini Beliau mengajar di SPK saint Peter School, Jakarta Utara. Bersama rekan-rekan BM 25 dan 26 Beliau telah menerbitkan 2 buku antologi dan saat ini sedang menyusun buku solo.

Narasumber pada kesempatan kali ini adalah Bpk. Joko Irawan Mumpuni. Beliau adalah Direktur Penerbitan dari Penerbit Andi Offset Yogyakarta. Beliau juga merupakan anggota Dewan Pertimbangan IKAPI DIY, dan Penulis Buku yanh sudah bersertifikat BNSP. Saat ini juga beliau aktif sebagai Asesor BNSP.

Materi yang disampaikan oleh nara sumber pada kali ini adalah tentang Menjadi Penulis Buku Mayor.

 

Teman-teman,

Menjadi seorang penulis tentunya bisa menjadi impian setiap orang, terlebih lagi jika impian tersebut terwujud dan pastinya setiap karya kita diminati banyak pembaca. Menurut saya, menjadi penulis itu bisa menginspirasi banyak orang. Karena secara tidak langsung, karya kita akan menginspirasi banyak orang, bahkan dari berbagai kalangan. Bisa jadi banyak pembaca yang hidupnya berubah menjadi lebih baik setelah membaca sebuah karya kita seperti novel, biografi, artikel, atau tulisan lainnya. Jadi kita harus bangga menjadi seorang penulis.

Menurut Wikipedia, Penulis adalah sebutan bagi orang yang melakukan pekerjaan menulis. Sebutan penulis juga diberikan kepada orang yang menciptakan suatu karya tulis. Penulis merupakan pelaku kreatif yang menciptakan suatu karya tulis baik berupa karya fiksi (novel, cerpen, puisi) maupun non-fiksi (karya ilmiah, makalah, jurnal, artikel). Karya-karya yang diciptakan oleh penulis biasanya mewakili ide, pikiran, dan perasaannya. Bidang pekerjaan penulis tidak hanya sebatas buku dan teks. Ada juga penulis yang terlibat dalam penulisan naskah skenario iklan.

Setelah karya kita selesai dan ingin diterbitkan, maka kita memerlukan adanya rekanan penerbit sebagai partner kita dalam menerbitkan buku. Biasanya bagi penulis pemula ada banyak tawaran dari penerbit indie yang ingin menerbitkan. Namun jika sudah lebih layak dan lebih tinggi tingkatannya, maka kita akan menemui suatu penerbit mayor, yaitu penerbit besar yang ingin menerbitkan karya kita. Tidak mudah memang untuk menembus pnerbit mayor. Perlu diketahui trik khusus maupun langkah-langkahnya.

Narasumber menjelaskan, Penerbit adalah suatu Industri kreatif yang didalamnya ada kolabarasi insan-insan kreatif seperti Penulis, Editor, Layouter, Ilustrator dan desain grafis. Ini merupakan bagian dari industri kreatif penerbitan cetak, saat ini dan mendatang berharap akan bertambah insan-insan kreatif bidang lain yang akan bergabung seiring dengan perkembangan dunia penerbitan yang kini sudah mengarah pada Publisher 5,0. yang memanfaatkan teknologi IT untuk menerbitkan karya-karya  kreatif.


Ada dua jenis kategori buku yang beredar dilingkungan kita, Dua kategori besar jenis buku adalah buku Teks (buku sekolah-kampus) dan buku Non Teks (buku-buku populer). Buku sekolah disebut buku pelajaran sedangkan kampus disebuat buku Perti (perguruan tinggi). Buku Nonteks  dibagi dua lagi menjadi buku Fiski dan Non Fiksi.




Narasumber juga membagikan info grafis tentang dunia perbukuan, khususnya yang ada di Indonesia.








Berdasarkan info grafis diatas, dapat disimpulkan bahwa daya minat dan daya beli masyarakat terhadap yang lebih besar adalah pada buku karya Fiksi. Itu artinya peluang yang sangat besar bagi penulis untuk dapat berkarya menulis buku Fiksi, dan tidak tertutup kemungkinan juga untuk membuat buku-buku jenis lain.

Namun, berdasarkan survey, di Indonesia tingkat literasi bangsa ini sampai saat ini masih banyak rendah dibandingkan dengan negara lain. Ada beberapa penyebab tingkat literasi di Indonesia rendah, yaitu :

1.    Berdasarkan Minat Baca

  • Budaya baca
  • Kurangnya bahan bacaan
  •  Kualitas bacaan

2.    Berdasarkan Minat Tulis

  • Budaya tulis
  • Tidak tahu prosedur menulis dan Penerbitan
  • Anggapan yang salah tentang dunia penulisan dan penerbitan

3.    Berdasarkan Apresiasi Hak Cipta

  • Pembajakan
  • Duplikasi non legal
  • Perangkat hukum

Selanjutnya bagaimana proses penerbitan mulai dari  memasukan/mengirimkan naskah buku ke penerbit hingga buku itu terbit dan beredar. Narasumber menjelaskan kriteria penerbit yang baik itu adalah :

1.    Memiliki visi dan misi yang jelas

2.    Memiliki Bussines core lini produk tertentu

3.    Pengalaman penerbit

4.    Jaringan pemasaran

5.    Memiliki percetakan sendiri

6.    Keberanian mencetak jumlah eksemplar

7.    Kejujuran dalam pembayaran royalti


Narasumber menjelaskan lagi mengapa kita harus menulis? Apa yang kita dapatkan ketika sudah berhasil menerbitkan buku secara profesional dan diterbitkan oleh penerbit yang bereputasi?, maka kita akan mendapatkan:

1.    Peningkatan Financial

  • Royalty
  • Diskon pembelian langsung
  • Seminar/mengajar

2.    Peningkatan Karir

  • Adanya kebutuhan peningkatan status jabatan
  • Peluang karir di institusi atau perusahaan

3.    Kebutuhan Batin

Buku sebagai karya monumental yang dikenang sepanjang masa

 

4.    Reputasi

Buku sebagai karya yang terpublikasi akan meningkatkan reputasi penulisnya

 



Narasumber juga menjelaskan lagi bagaiman kriteria agar naskah buku dapat diterima oleh penerbit untuk dapat diterbitkan. Karena tidak semua naskah dapat diterima. Sebagai contoh penerbit ANDI itu tiap bulan menerima naskah masuk bisa sampai 500 nasakah. Namun yang diterima untuk diterbitkan hanya 50 Judul saja.Salah satu diantara kriterianya adalah Tema yang ditulis itu termasuk Tema Populer. Tema yang popular adalah tema yang mengikuti trend saat ini. Contohnya adalah tema pemasaran, namun agar lebih menarik lagi kata pemasaran bisa diganti dengan kata marketing.

 

Kemudian jika naskah sudah masuk dan ingin diterbitkan, ternyata penerbit mempunyai cara untuk menentukan jumlah cetakan atau oplah. Penerbiat akan sangat berhati-hati  jika ada buku-buku yang bertema memiliki Pasar sempit dan Lifecycle pendek, namun penerbit akan senang dengan tema-tema buku yang memiliki Lifecycle panjang dan market lebar.




Kemudian, tentang seorang penulis, ada tiga jenis kelompok kategori penulis, dan kita bisa mengetahui jika kita menjadi penulis, dikategori mana kita berada. Kategori itu adalah :

1.    Penulis Idealis, dengan ciri-ciri:

  • Menulis tidak begitu memperhatikan kebutuhan pasar
  • Tidak begitu suka dengan campur tangan pihak lain
  • Imbalan financial tidak begitu dipentingkan
  • Kesempurnaan sebuah karya lebih penting daripada produktifitas

2.    Penulis Industrialis, dengan ciri-ciri :

  • Menulis dengan sangat memperhatikan kebutuhan pasar
  • Terbuka dan lapang dada terhadap segala intervensi pihak lain
  • Terkadang kesempurnaan karya tidak lebih penting daripada produktifitas

3.    Penulis kombinasi idealis dan industrialis, dengan ciri-ciri:

  • Tetap memperhatikan kebutuhan pasar, namun tetap berani ambil sikap yang berbeda dengan kebanyakan penulis lain
  • Meskipun terbuka terhadap masukan pihak lain, tetap mempunyai pendirian yang kokoh
  • Imbalan financial memang penting, namun tetap memperhatikan kualitas
  • Keseimbangan antara kesempurnaan karya dan produktifitas

Penerbit akan memilih penulis yang memiliki idealis dan industrialis, yaitu penulis kombinasi. Banyak karya yang dibuat oleh penulis, terkadang penulis sendiri merasa minder karena tidak memiliki gelar akademik yang tinggi. Namun terkadang ada juga penerbit yang menolak naskah dari penulis meskipun sudah memiliki gelar akademik yang tinggi. Karena penerbit hanya dapat menerima yang memiliki pangsa pasar yang luas. Berdasarkan tema populer.

Jadi bagaimana teman-teman?, apakah kita akan meneruskan keinginan untuk menjadi penulis mayor atau hanya ingin menjadi penulis yang biasa saja?, semua pilihan ada ditangan masing-masing. Selamat memilih dan tetap berjuang untuk menjadi penulis. 

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang didalam  masyarakat dan sejarah” (Pramoedya Ananta Toer)

“bila kau bukan anak raja, juga bukan anak ulama besar, maka menulislah” (Al Ghazali)

“Semua orang akan mati terkecuali karyanya. Maka tulislah sesuatu yang akan membahagiakan dirimu di akhirat kelak”- Ali bin Abi Thalib

 

Semoga bermanfaat

Salam hangat penuh semangat


  Persiapan Menjelang Liburan   Assalamualaikum... Hai Teman-teman... Beberapa saat lagi kita akan memasuki masa liburan, liburan kali...